Haflah Akhirussanah Ma’had al Jami’ah Mengusung Tema Gus Dur dan Pemikiran Kepesantrenan

Pekalongan, 27 Agustus 2021

Dalam rangka akhir tahun Program Pesantren Mitra, Ma’had al-Jami’ah IAIN pekalongan mengadakan Haflah Akhirussanah pada Kamis, 26 Agustus 2021 pukul 08.00 s/d 12.00 WIB. Tema acara pada tahun ini adalah Gus Dur dan Pemikiran Kepesantrenan. Tema ini diusung dalam rangka ikut mendukung proses peralihan status dari IAIN Pekalongan menuju UIN Abdurrahaman Wahid. Acara dilaksanakan secara blended, yakni 30 peserta secara tatap muka dan selebihnya mengikuti acara secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting.

Rangkaian acara pada kegiatan ini diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an dan disusul Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne IAIN Pekalongan, dan Mars Syubhanul Wathon. Urutan acara selanjutnya sambutan oleh Mudir Ma’had al-Jami’ah, Kyai Abdul Aziz, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menyampikan bahwa acara ini diselenggarakan dalam rangka ceremonial penarikan mahasantri KIP dari pondok pesantren mitra yang diwajibkan selama satu tahun mondok. Akan tetapi harapannya mahasantri tetap melanjutkan mengaji ataupun mondok lebih lama lagi, walau secara administrasi sudah tidak diwajibkan. Menurut Abdul Aziz, Haflah mengambil tema Gus Dur dan Pemikiran Kepesantrenan, dengan harapan memberi pengaruh, ghirah, dan keberkahan bagi mahasantri sebagai intelektual yang berakhlak.

Seusai sambutan Mudir Ma’had al-Jami’ah, acara dilanjutkan sambutan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. H. Muhlisin, M.Ag. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa Pesantren merupakan peletak Pendidikan dasar dan tertua di Indonesia. Pesantren dan perguruan tinggi harus disinergikan, jangan pernah berpikir untuk menduakan kedua Lembaga ini. Namun berusahalah untuk mengharmoniskannya, hal ini dikarenakan keduanya tidak hanya dapat membentuk mental akan tetapi juga fisik. Tradisi kehidupan di pondok, dan dunia perkuliahan memiliki nilai khas yaitu perpaduan antara logika dan empiris, serta tradisi keislaman berdasarkan keimanan. Beliau jungan menyampikan bahwa Dengan tema Gus Dur dan Pemikiran Kepesantrenan diharapkan mahasantri dapat memiliki pola piker seperti Gus Dur, tentang bagaimana cara membangun Indonesia, membangun tradisi keislaman, dan keluarga. Memiliki khazanah, dan talenta di bidang akademik dengan selalu memanfaatkan waktu yang bisa bermanfaat bagi sesamanya.

Seusai sambutan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, acara dilanjutkan dengan sambutan Rektor IAIN Pekalongan, Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag. Pada kesempatan tersebut  beliau menyampiakn bahwa Program mondok bagi mahasantri KIP seharusnya tidak hanya terbatas 1 tahun saja, akan tetapi sampai lulus. Dengan demikian pondok pesantren dan perguruan tinggi dapat mencetak “Sarjana yang ‘Alim”. Sarjana yang alim juga harus memiliki pedoman “ al-adabu fauqo al-ilmi” . Perlu diketahui bahwa adab berkedudukan lebih utama dari ilmu, lebih utama lagi jika memiliki adab dan juga memiliki ilmu. Beliau juga menyampikan bahwa Institusi sedang mengupayakan untuk pembangunan gedung Ma’had al-Jami’ah, sehingga seluruh mahasiswa baru sejumlah 2000-an akan mendapat program kepesantrenan di asrama secara bersamaan.

Seusai sambutan Rektor IAIN Pekalongan, acara dilanjutkan dengan sambutan perwakilan dari pondok pesantren mitra yang diwakili oleh pengasuh PP. An-Nur, Dr. KH. Ade Dedi Rohayana, M.Ag. Dalam sambutannya beliau menyampikan terimakasih atas kesempatan kepada kami atas kepercayaan dan  amanah mahasantri dari IAIN pekalongan. Program Beasiswa mendukung perkuliahan dan juga kepesantrenan. Karena mondok dan kuliah sama pentingnya, dengan harapan menjadi mahasantri yang berkeilmuan dan berakhlakul karimah.  Beliau juga berharap kepada mahasantri, setelah selesainya program 1 tahun ini, akan tetap mengaji. Setelah sambutan-sambutan berakhir acara dilanjutkan dengan penyerahan syahadah secara simbolis kepada mahasantri oleh Mudir Ma’had al-Jami’ah.

Masuk acara puncak yaitu  seminar dengnan tema Gus Dur dan Pemikiran Kepesantrenan. Seminar dimoderatori oleh Dosen IAIN Pekalongan, Abdul Adim, M.Pd.I. Pemateri pertama disampikan oleh Ust. Autad Annasher, M.Ag. beliau merupakan penulis produktif dan aktifis Gusdurian. Pada pemamaparannya beliu menyampikan biografi Gus Dur. Menurutnya Gus Dur tidak hanya seorang Kyai akan teapi Gus Dur adalah seorang budayawan, aktivis, intlektual, dan politisi. Basis pemikiran Gus Dur adalah pesantren, NU, Islam dan Indonesia. Gus Dur adalah representasi dari seorang santri multi talenta. Menjadi santri adalah sebagai sebuah kebanggaan. Menurutnya ada Sembilan nilai dalam perjuangan Gus Dur yakni: ketauhidan (spirituality), persaudaraan (solidarity), kesederhanaan (humility), kemanusiaan (humanity), pembebasaan (liberation), kesatriaan (spirit of ksatrya), keadilaan (justice), kesetaraan (equality), dan kearifan lokal (traditional wisdom).

Materi kedua disampikan oleh Kyai M. Mujib Hidayat, M.Pd.I. Beliau menyampikan beberapa hal; Pertama, Pesantren memiliki nilai khas atau bisa disebut dengan adanya tirakat. Barokah dari Kyai lebih penting karena hal tersebut dapat mendatangkan ilham dari Allah.  Kedua, Menjadi santri adalah anugerah yang tertinggi, banyak cerita bahwa ada salah seorang santri yang jarang ikut ngaji, namun dia selalu mengabdikan dirinya untuk sang Kyai, dengan izin Allah saat dia sudah kembali  ke rumah, dia langsung bisa ngaji. Hal tersebut di dapatkan karena ridho Kyai yang menjadikan semuanya berkah. Ketiga,  Pondok pesantren merupakan dunia yang sangat luas, tuntas, dan tidak terbatas, banyak keberkahan ilmu yang bisa didapatkan.

Sebagai penutup rangkaian acara, dibacakan do’a penutup oleh Kyai Makmun, M.S.I. Secara umum rangkaian acara berlangsung dengan lancar dan peserta mengikutinya dengan khusyu’ dan khidmat.

Reporter: Khafid Abadi, M.H.I
Editor: Zulaikhah Fitri Nur Ngaisah, M.Ag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *